SUMENEP – Dinas Kesehatan (Dinkes) Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Kabupaten Sumenep terus bergerak masif dalam meningkatkan derajat kesehatan masyarakat di tingkat desa.
Salah satu langkah konkretnya diwujudkan melalui agenda Evaluasi Kegiatan “Desa Peduli dan Mandiri” yang digelar di Balai Desa Karduluk, Kecamatan Pragaan, Kabupaten Sumenep, Kamis (02/02/2026).
Kegiatan evaluasi ini difokuskan pada pemaparan capaian program serta penguatan partisipasi aktif masyarakat dalam mendeteksi secara dini (penemuan) serta upaya bersama dalam menurunkan stigma negatif terhadap penyakit menular, khususnya Tuberkulosis (TBC) dan kusta.
Hadir sebagai panitia sekaligus narasumber utama dalam forum tersebut, Kepala Puskesmas (Kapus) Pragaan beserta tim, Camat Pragaan dan jajaran Lintas Sektoral (Linsek), serta tim pendamping dari Leprosy & Tuberculosis Network Resource (LNR) dan Wasor (Wakil Supervisor) Provinsi Jawa Timur.
Sinergi yang kuat terlihat dari komposisi peserta yang hadir memadati Balai Desa Karduluk. Mereka terdiri dari para tenaga kesehatan (nakes) desa, tim Promosi Kesehatan (Promkes) Puskesmas Pragaan, jajaran perangkat desa hingga seluruh kepala dusun, tokoh masyarakat, serta tokoh agama setempat.
Istimewanya, forum ini juga melibatkan langsung para mantan penderita TBC dan kusta yang kini telah sembuh.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (P2KB) Kabupaten Sumenep, Drg Ellya Fardasah, Mkes., dalam arahannya menekankan pentingnya kolaborasi lintas sektor agar program intervensi kesehatan berbasis desa ini berjalan berkelanjutan.
“Kami mengapresiasi keterlibatan tokoh agama dan masyarakat yang menjadi jembatan informasi krusial di tengah warga,” kata Ellya Fardasah disela-sela kegiatan berlangsung pada Kamis, 25/06/2026.
Menurutnya, grafik capaian kerja keras nakes dan kader di lapangan terbukti mampu meningkatkan angka penemuan kasus baru, yang merupakan langkah awal paling krusial sebelum dilakukan pengobatan hingga tuntas.
”Kunci utama dari ‘Desa Peduli dan Mandiri’ ini bukan hanya menemukan kasus, tapi bagaimana lingkungan sekitar bisa menerima dan mendukung kesembuhan mereka,” ujarnya.
Dalam forum tersebut, melibatkan mantan penderita TBC dan kusta yang menjadi bukti nyata bahwa penyakit ini bisa sembuh total dan mereka bisa kembali produktif di masyarakat tanpa harus dikucilkan,” ujar salah satu pemateri dari tim Wasor Provinsi Jatim.
Melalui evaluasi ini, diharapkan seluruh elemen di Desa Karduluk, mulai dari kepala dusun hingga tokoh agama, semakin kompak dalam melakukan edukasi ke masyarakat.
“Kami berharap, langkah ini mampu mengikis habis stigma negatif yang selama ini sering membuat penderita enggan memeriksakan diri, sekaligus mempercepat visi Kabupaten Sumenep bebas TBC dan kusta,” pungkasnya. (Red)






