SUMENEP — Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (DKPP) Sumenep terus berkomitmen memperkuat produktivitas sekaligus menggenjot hilirisasi komoditas lokal guna meningkatkan nilai tambah dan kesejahteraan petani.
Sektor pertanian, kehutanan, dan perikanan masih menjadi motor penggerak utama perekonomian Kabupaten Sumenep, Jawa Timur, dengan kontribusi mencapai 38,44 persen terhadap Produk Domestik Regional Bruto (PDRB).
Kepala DKPP Sumenep, Chainur Rasyid, menegaskan bahwa pengembangan pertanian tidak boleh hanya berfokus pada volume produksi mentah, melainkan juga pengolahan dan pemasarannya.
”Bagaimana hasil tersebut bisa memberikan nilai tambah dan meningkatkan pendapatan petani juga menjadi bagian penting,” ujar Chainur, Jumat (6/11/2026).
Dari sektor tanaman pangan, produksi beras periode Januari–November 2026 tercatat mencapai 113.362 ton, naik 3,64 persen dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 109.377 ton.
Peningkatan ini didorong oleh bertambahnya Luas Tambah Tanam (LTT) periode Oktober 2025 hingga September 2026 menjadi 33.414 hektare, serta luas panen yang meningkat dari 35.770 hektare menjadi 37.311 hektare. Sementara itu, total produksi Gabah Kering Giling (GKG) mencapai 196.324 ton.
Selain tanaman pangan, DKPP Sumenep juga memfokuskan perhatian pada komoditas perkebunan unggulan, yakni tembakau, dengan estimasi luas tanam mencapai sekitar 12.000 hektare pada 2026.
Chainur menekankan, pengembangan seluruh komoditas unggulan daerah ini akan terus disesuaikan dengan karakteristik wilayah, kebutuhan petani, serta peluang pasar agar sektor pertanian Sumenep semakin produktif dan berdaya saing.






