SUMENEP — Di tengah kelangkaan bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi jenis solar yang dikeluhkan masyarakat, ceceran BBM tersebut justru meluber dan memicu bahaya di Jalan Raya Manding, Kabupaten Sumenep, Jawa Timur. Sebuah kecelakaan tunggal akibat tumpahan solar kembali merenggut korban pada Selasa (3/11/2026) malam.
Insiden yang terjadi sekitar pukul 21.00 WIB di sebelah utara pabrik air Desa Kebunan tersebut mengakibatkan seorang pengendara motor perempuan asal Desa Rajun, Kecamatan Pasongsongan, terjatuh dari kendaraannya.
Korban bahkan sempat tidak sadarkan diri selama kurang lebih 15 menit akibat benturan keras sebelum akhirnya dievakuasi pihak keluarga ke Puskesmas Rubaru untuk mendapatkan perawatan medis.
Warga setempat mengaku bersyukur lantaran tidak ada kendaraan roda empat yang melintas saat korban terkapar di badan jalan yang licin. Kendati demikian, insiden di tengah langkanya pasokan solar bersubsidi ini kian memicu keresahan dan keprihatinan masyarakat.
Ketua Jurnalis Sumenep Independen (JSI), Igusty Madani, mendesak aparat penegak hukum, pemerintah daerah, dan DPRD agar tidak sekadar melontarkan pernyataan atau koordinasi seremonial.
Menurutnya, diperlukan langkah taktis dan penyelidikan mendalam untuk menghentikan teror tumpahan solar yang terus berulang.
”Polresta Sumenep, dinas terkait, dan Komisi III DPRD harus segera berkoordinasi, turun langsung melakukan inspeksi, serta mencari solusi permanen. Ini menyangkut keselamatan dan nyawa masyarakat,” ujar Igusty, Rabu (4/11/2026).
Ia juga meminta agar seluruh stasiun pengisian bahan bakar umum (SPBU) di Kabupaten Sumenep dievaluasi secara menyeluruh. Igusty menduga, salah satu pemicu utama ceceran solar di jalan raya adalah praktik pengisian BBM yang melebihi kapasitas tangki kendaraan (overload).
”Seluruh SPBU harus dipanggil dan dievaluasi. Pengisian solar harus sesuai kapasitas tangki kendaraan. Jangan sampai kelalaian dalam proses pengisian justru membahayakan pengguna jalan lainnya,” tegasnya.
Sebelumnya, Kepala Bagian Perekonomian Setdakab Sumenep, Ir. Slamet Supriyadi, mengatakan bahwa pihaknya akan menerbitkan dan mendistribusikan surat edaran kepada seluruh SPBU agar memperketat aturan volume pengisian solar.
Kebijakan tersebut juga dibarengi dengan rencana koordinasi lintas sektoral bersama Dinas Perumahan Rakyat, Kawasan Permukiman dan Perhubungan (Disperkimhub) untuk meninjau aspek kelayakan kendaraan melalui uji KIR.
Kekhawatiran warga beralasan mengingat insiden serupa bukan kali pertama terjadi.
Kendri, seorang warga setempat, mengungkapkan bahwa sekitar 10 hari sebelum kejadian ini, anggota keluarganya juga mengalami kecelakaan tunggal di lokasi yang sama hingga mengalami luka robek di bagian dahi dan memerlukan jahitan medis.
”Sering terjadi kecelakaan tunggal, Mas. Terutama di utara pabrik air itu,” keluhnya.
Berdasarkan inventarisasi dan keluhan warga, terdapat setidaknya lima titik rawan di sepanjang Jalan Raya Manding yang kerap dikeluhkan licin akibat tumpahan solar:
1.Sebelah utara SPBU Pomolokan (sekitar Masjid Fatimah).
2.Sebelah utara Warung Sabiya (kawasan pabrik air Desa Kebunan).
3.Depan Puskesmas Pembantu (Pustu) Desa Lalangon.
4.Tikungan tajam sebelum Kantor Pertanian Desa Giring.
5.Tikungan tajam sebelah barat SMP Negeri 1 Manding (Desa Manding Laok).
Warga Manding, Ramzi, berharap para pemangku kebijakan, termasuk DPRD Sumenep yang sebelumnya sempat berjanji akan turun tangan, dapat segera merealisasikan langkah nyata di lapangan demi memutus rantai kecelakaan ini.
Sembari menunggu tindakan tegas dari instansi berwenang, para pengendara diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra—khususnya pengendara roda dua—ketika melintasi jalur tersebut pada malam hari atau kondisi jalan basah.






