PAMEKASAN— Dalam rangka memperingati 17 tahun perjalanan Aliansi Jurnalis Pamekasan (AJP), organisasi profesi jurnalis ini menggelar kegiatan Refleksi, Bedah Buku, dan Temu Akbar Jurnalis se-Madura. Acara yang berlangsung penuh makna ini di Hall Laboratorium Universitas Madura, Rabu, 11/11/2025, malam menjadi momentum penting bagi para jurnalis untuk meneguhkan kembali peran sosial dan intelektual mereka di tengah masyarakat.
Dalam kegiatan tersebut, AJP juga mengumumkan dua program besar yang sarat nilai kemanusiaan dan edukasi, yaitu peluncuran Rumah Singgah/Rumah Teduh serta peluncuran buku berjudul “Pamekasan Mencari Identitas.”

Ketua AJP, M. Khoirul Umam, dalam sambutannya di hadapan Bupati Pamekasan, para pejabat, dan tamu undangan, menyampaikan bahwa gagasan pendirian Rumah Singgah lahir dari keprihatinan terhadap kondisi masyarakat kurang mampu yang sering kali kesulitan mencari tempat beristirahat saat menjalani perawatan medis di RSUD dr. Soetomo Surabaya.
“Rumah Singgah atau Rumah Teduh ini kami dedikasikan bagi warga kurang mampu yang membutuhkan penginapan selama menjalani pengobatan di Surabaya. Berdasarkan penelitian kami, masih banyak pasien asal Pamekasan yang terpaksa tidur di musala, di area pom bensin, bahkan di pinggiran jalan karena keterbatasan biaya,” ujar Khoirul Umam, Rabu, 12/11/2025.
Program Rumah Singgah ini menjadi wujud nyata kepedulian sosial AJP, sekaligus cerminan bahwa jurnalisme sejati tidak hanya berperan dalam menyampaikan informasi, tetapi juga hadir membawa solusi bagi persoalan kemanusiaan.
Selain itu, peluncuran buku “Pamekasan Mencari Identitas” menjadi langkah intelektual AJP untuk menghadirkan karya literasi yang menggugah kesadaran masyarakat akan pentingnya memahami sejarah, budaya, dan karakter daerahnya. Buku ini diharapkan dapat menjadi sumber pengetahuan dan refleksi bagi generasi muda dalam membangun identitas dan kebanggaan terhadap tanah kelahiran.
“Kami ingin mengajak seluruh jurnalis untuk terus menulis dengan hati, tidak hanya mengabarkan peristiwa, tetapi juga menyalakan semangat kemanusiaan dan kecintaan terhadap daerah,” tambah Umam.
Melalui refleksi perjalanan selama 17 tahun ini, AJP menegaskan komitmennya untuk terus menjaga integritas, memperkuat kolaborasi antarjurnalis se-Madura, dan menghadirkan karya jurnalistik yang mencerahkan serta berdampak positif bagi masyarakat.
Acara Bedah Buku dan Temu Akbar Jurnalis se-Madura tersebut sekaligus menjadi momentum penting untuk memperkuat semangat “jurnalisme berempati”, yakni jurnalisme yang tidak sekadar melaporkan fakta, tetapi juga menginspirasi perubahan sosial yang lebih baik.






