Pilkades E-Voting di Kabupaten Sumenep: Demokrasi Jangan Dijadikan Ajang Gengsi Teknologi

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 21:40 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

Opini oleh M. Syauqi Sekretaris BEM Nusantara Jatim asal Sumenep

SUMENEP – Penerapan sistem e-voting dalam Pemilihan Kepala Desa (Pilkades) di Kabupaten Sumenep menimbulkan satu pertanyaan besar: apakah tujuan utamanya benar-benar memperkuat demokrasi, atau sekadar mengejar label “modern”? Sebab, demokrasi tidak membutuhkan pencitraan digital melainkan membutuhkan kepercayaan rakyat.

Jangan sampai Pilkades berubah dari pesta demokrasi menjadi pertunjukan teknologi yang hanya dipahami oleh segelintir orang.

Rakyat diminta datang, menekan layar, lalu pulang dengan harapan bahwa semua proses berjalan benar. Padahal, kepercayaan tidak lahir dari tombol elektronik, melainkan dari proses yang benar-benar terbuka dan dapat diawasi masyarakat.

Ironisnya, ketika banyak desa masih bergelut dengan persoalan infrastruktur dan literasi digital, justru dipilih sistem yang jauh lebih rumit daripada mekanisme yang selama ini dipahami masyarakat.

Ini menimbulkan kesan bahwa yang dikejar bukan kesiapan rakyat, melainkan kebanggaan bisa mengklaim diri sebagai daerah yang “maju”. Modernisasi yang mengabaikan kesiapan masyarakat hanyalah kemasan yang mengilap, tetapi rapuh di dalam.

Jangan jadikan Kabupaten Sumenep sebagai etalase proyek digitalisasi jika fondasi kepercayaan publik belum benar-benar kokoh.

Demokrasi bukan soal seberapa canggih alat yang digunakan, tetapi seberapa besar rakyat yakin bahwa suara mereka dihormati, dihitung dengan benar, dan hasilnya dapat dipertanggungjawabkan.

Pemimpin yang lahir dari proses demokrasi membutuhkan legitimasi yang kuat, bukan sekadar hasil yang keluar lebih cepat. Sebab, hasil yang cepat tidak akan pernah mampu menggantikan kepercayaan masyarakat.

Jika rakyat masih menyimpan keraguan terhadap prosesnya, maka secanggih apa pun teknologinya, demokrasi justru kehilangan ruhnya.

Kabupaten Sumenep seharusnya membangun demokrasi yang semakin terbuka, bukan demokrasi yang semakin sulit dipahami rakyat. Jangan biarkan teknologi menjadi tirai yang menutupi proses yang semestinya dapat diawasi bersama. Sebab ketika demokrasi mulai terasa jauh dari rakyat, yang hilang bukan hanya rasa percaya, tetapi juga makna dari suara rakyat itu sendiri.

Facebook Comments Box

Berita Terkait

Inisial IS Diduga Jadi Pengendali Program P3TGAI 2026 di Wilayah Lenteng Tuai Sorotan
Momen Ultah Ke-56, Dirut RSUDMA Sumenep Ucapkan Terima Kasih dan Apresiasi Kepada JSI
Gabungkan Semangat Kebersamaan, Semarak Dies Natalis ke-45, Unitomo Friendship Run 2026 Sukses Digelar
Bapenda Sumenep Dorong PAD Lewat Sosialisasi Strategi Percepatan Pelunasan PBB-P2 Tahun 2026
Bupati Fauzi Kembali Rotasi Sejumlah ASN di Sumenep, Pejabat Tak Produktif Siap Dievaluasi Kerja Enam Bulan
Bupati Fauzi Resmi Lantik 31 Pejabat Administrator, Tekankan Integritas dan Budaya Kerja Produktif
Perkuat Kinerja Birokrasi di Sumenep, Bupati Fauzi Kembali Lantik Pejabat Pimpinan Tinggi Pratama
Bupati Fauzi: Logo Hari Jadi ke 758 Melambangkan Karakteristik Daerah dan Semangat Kebersamaan
Berita ini 6 kali dibaca

Berita Terkait

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 21:40 WIB

Pilkades E-Voting di Kabupaten Sumenep: Demokrasi Jangan Dijadikan Ajang Gengsi Teknologi

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 19:58 WIB

Inisial IS Diduga Jadi Pengendali Program P3TGAI 2026 di Wilayah Lenteng Tuai Sorotan

Senin, 27 Juli 2026 - 19:05 WIB

Momen Ultah Ke-56, Dirut RSUDMA Sumenep Ucapkan Terima Kasih dan Apresiasi Kepada JSI

Minggu, 26 Juli 2026 - 13:15 WIB

Gabungkan Semangat Kebersamaan, Semarak Dies Natalis ke-45, Unitomo Friendship Run 2026 Sukses Digelar

Rabu, 22 Juli 2026 - 09:00 WIB

Bapenda Sumenep Dorong PAD Lewat Sosialisasi Strategi Percepatan Pelunasan PBB-P2 Tahun 2026

Berita Terbaru