SURABAYA – Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Dr. Soetomo (FIKOM Unitomo) kolaborasi dengan Perhimpunan Hubungan Masyarakat Indonesia (PERHUMAS) BPC Surabaya Raya untuk perkuat kompetensi mahasiswa dalam menghadapi krisis komunikasi.
Upaya kolaborasi itu diwujudkan melalui kegiatan PERHUMAS Goes to Campus bertajuk “Turning Chaos Into Clarity: Seni Berkomunikasi Saat Krisis Melanda Organisasi” yang berlangsung di RM Soemantri Lantai 3, Gedung A Unitomo, Surabaya, Senin (12/10/2026).
Kegiatan tersebut menjadi ruang pembelajaran bagi mahasiswa untuk memahami strategi komunikasi krisis yang mengedepankan akurasi informasi, empati, integritas, dan tanggung jawab kepada publik. Forum tersebut menghadirkan akademisi dan praktisi untuk membahas tantangan komunikasi organisasi di tengah dinamika informasi yang semakin kompleks.
Dekan FIKOM Unitomo, Dr. Nur’annafi Farni Syam Maella, M.I.Kom., menegaskan bahwa pendidikan komunikasi tidak hanya berorientasi pada kemampuan menyusun pesan dan berbicara di depan publik, tetapi juga membentuk pola pikir kritis, kepekaan sosial, serta integritas mahasiswa dalam menjalankan profesinya.
“Dalam situasi krisis, publik membutuhkan kejelasan informasi sekaligus kepastian bahwa kekhawatiran mereka didengar dan ditindaklanjuti. Karena itu, komunikasi harus berangkat dari kejujuran, empati, dan kesediaan organisasi untuk bertanggung jawab. Kepercayaan dibangun melalui keselarasan antara pesan yang disampaikan dan tindakan yang dilakukan,” ujar perempuan yang akrab disapa Anna.
Menurutnya, mahasiswa perlu memahami dampak krisis terhadap masyarakat. Kemampuan menyusun pesan, harus disertai kesediaan mendengarkan, memverifikasi informasi, dan memahami pengalaman pihak-pihak yang terdampak.
“Mahasiswa perlu memahami bahwa di balik setiap krisis ada manusia yang terdampak. Kemampuan berbicara dan menyusun pesan harus disertai kepekaan untuk mendengar, memverifikasi informasi, dan memahami pengalaman orang lain. Kompetensi inilah yang ingin kami tumbuhkan dalam pendidikan komunikasi di FIKOM Unitomo,” tuturnya.
Kolaborasi ini menjadi sarana untuk mempertemukan pembelajaran akademik dengan pengalaman praktisi. Melalui kegiatan ini, Anna menambahkan, mahasiswa diharapkan mampu memahami penerapan teori komunikasi dalam pengambilan keputusan, pengelolaan risiko, dan upaya menjaga kepercayaan publik.
Dalam kesempatan yang sama, Rektor Unitomo, Prof. Dr. Siti Marwiyah, S.H., M.H., turut memberikan sambutan mengenai pentingnya pembelajaran yang relevan dengan kebutuhan masyarakat dan perkembangan dunia profesional. Perguruan tinggi diharapkan mampu menyiapkan lulusan yang tidak hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki keterampilan dan etika profesional untuk menjawab tantangan di masyarakat.
Direktur Utama Lembaga Kantor Berita Nasional (LKBN) ANTARA, Benny Siga Butarbutar, yang hadir sebagai pembicara, menyoroti peran media dalam membentuk persepsi publik ketika organisasi menghadapi krisis.
“Media memiliki kekuatan besar untuk membentuk persepsi publik. Dalam situasi krisis, media bisa menjadi penyelamat, tetapi juga bisa memperkeruh keadaan jika informasi yang disampaikan tidak akurat,” kata Benny.
Ia menjelaskan, organisasi perlu memiliki strategi komunikasi yang jelas, termasuk menunjuk satu juru bicara agar informasi yang disampaikan kepada publik tetap konsisten. Respons cepat, terutama pada satu jam pertama atau the golden hour, juga penting untuk mencegah berkembangnya kesimpangsiuran informasi.
Benny menekankan pentingnya peningkatan kualitas jurnalisme melalui penguatan kemampuan berpikir kritis, perluasan wawasan, dan peliputan investigasi. Menurutnya, media dan praktisi hubungan masyarakat harus mengedepankan objektivitas serta tidak memanipulasi informasi untuk membentuk persepsi tertentu.
“Jangan sampai informasi yang disampaikan justru membuat persoalan semakin besar. Media memiliki tanggung jawab untuk menyampaikan informasi yang akurat dan membangun pemahaman masyarakat,” ujarnya.
Ketua PERHUMAS BPC Surabaya Raya, Indriani Siswati, juga hadir sebagai pembicara untuk memberikan perspektif praktisi hubungan masyarakat mengenai krisis komunikasi.
Keterlibatan PERHUMAS dalam kegiatan ini menjadi bagian dari upaya memperluas wawasan mahasiswa mengenai praktik kehumasan, pengelolaan reputasi, dan strategi komunikasi organisasi.
Melalui kegiatan ini, FIKOM Unitomo akan terus memperkuat sinergi antara dunia akademik dan praktisi profesional untuk mendorong lahirnya lulusan komunikasi yang kritis, adaptif, profesional, dan berintegritas.
Kolaborasi tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi tantangan jurnalisme dan hubungan masyarakat, sekaligus menjaga kepercayaan publik di tengah perubahan informasi yang semakin cepat.(*)






